Wowbogor.com merupakan salah satu e-commerce penyedia berbagai voucher promo produk dan jasa di Bogor. Wowbogor.com lahir dari kesadaran pentingnya kemudahan berbelanja bagi publik internet yang terus berkembang.

Lewat 10 Jalan ini, Jadi Ingat Bogor Punya Banyak Pahlawan Hebat

2,439

Hari Pahlawan, 10 November adalah hari istimewa dimana kita wajib mengenang jasa para pahlawan, Bogorian juga tentunya. Sudahkah Bogorian kenal dengan para pahlawan Bogor? Nah, mungkin beberapa dari kamu sudah tak asing lagi lantaran nama sejumlah pahlawan diabadikan menjadi nama beberapa jalan di Bogor.

1. M.A. Salmun (23 April 1903 – 10 Februari 1972)

http://blog.wowbogor.com
Lovely Bogor

M.A. Salmun atau Mas Ace Salmun Raksadikaria adalah pujangga dan sastrawan sunda asal Rangkasbitung. Bogor Heritage mencatat 480 karya sastra MA Salmun, baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia antara tahun 1929 hingga tahun 1971.

Legenda Ciung Wanara (1939) mungkin cerita yang masih sering kita dengar hingga saat ini, juga roman Masa Bergolak (1968), Lenggang Kancana, berbahasa Sunda yang kemudian disadur ke bahasa Melayu-Indonesia oleh sastrawan Armijn Pane pada tahun 1934 dan kumpulan peribahasa sunda “Paribasa Sunda” tahun 1971.

2. KH Abdullah bin Nuh (30 Juni 1905 – 26 Oktober 1987)

http://blog.wowbogor.com
Pojok Jabar

KH Abdullah bin Nuh adalah ulama, kyai kharismatik asal Cianjur dan pendiri Pesantren al-Ghozali Bogor. Beliau ulama Jawa Barat yang terkenal produktif dan memiliki visi pendidikan Islam yang tinggi. Panggilan kemiliteran pun beliau lakoni dengan bergabung bersama Pembela Tanah Air (PETA) ketika Jepang mengalahkan Belanda. Ketika terjadi konflik, beliau turut berjuang memberontak dan ikut hijrah ke Yogyakarta menghindari penangkapan dan melanjutkan perjuangan. Di Yogyakarta, beliau turut mendirikan Universitas Islam Indonesia (UII).

Semasa hidupnya, KH Abdullah bin Nuh berguru hingga ke Kairo dan menulis banyak buku baik dalam bahasa Arab maupun Indonesia. Kamus Arab-Indonesia pun pernah beliau tulis bersama Oemar Bakri. Sedangkan karya monumentalnya adalah al-Alam al-Islami (Dunia Islam), terjemahan dari kitab Imam al-Ghazali adalah Minhaj al-Abidin (Jalan Bagi Ahli Ibadah), Al-Munqiz Min al-Dalal (Pembebas dari Kesesatan), dan al-Mustafa li ManLahu Ilm al-Ushul (Penjernihan bagi Orang yang Memiliki Pengetahuan Ushul). Ada juga selaksa karya berbahasa Indonesia mengenai Zakat Modern, Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW, dan Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten serta sebuah buku berbahasa Sunda, Lenyepaneun (Bahan Telaah Mendalam).

3. Raden Kan’an, 4. Raden Koyong, 5. Tumenggung Wiradireja dan 6. Pangeran Sogiri

Empat nama jalan ini berdekatan karena kedudukan empat tokoh ini. Bahkan hingga sekarang, Pesantren As-Sogiri masih berdiri dan keturunan Pangeran Sogiri masih mengelola pesantren dan makam para pangeran ulama ini.

Pangeran Sogiri sendiri merupakan anak dari Sultan Ageng Tirtayasa asal Banten yang ke-5. Walau beliau tak pernah menetap di Tanah Baru Bogor, namun Raden Koyong anak beliau menetap dan menjadi penguasa daerah ini dan membangun Pesantren As-Sogiri. Pangeran Sogiri memilih jalan Sufi dan menjadi ulama menyebarkan Islam di daerah Bogor. Walau demikian, beliau wafat dan dimakamkan di Jatinegara bersama anaknya Raden Koyong.

Raden Kan’an merupakan cucu dari Pangeran Sogiri. Anak dari Raden Koyong yang berkedudukan di Tanah Baru, Bogor di bawah pemerintahan Tumenggung Wiradireja di Tanah Baru dan Cimahpar. Nama beliau juga diabadikan di ruas jalan di Tanah Baru yang berganti nama menjadi Jalan Pangeran Sogiri. Konon, Raden Kan’an sangat sakti dan pernah mengalahkan Pendekar Cimande, Mbah Khair yang terkenal dengan ilmu hitamnya.

Sedangkan Tumenggung Wiradireja merupakan Penguasa Sukaraja, Bogor, ruas daerah yang berada di ujung Tanah Baru. Raden Kan’an dan saudaranya Raden Muhyiddin (Iyi) bergelar demang di bawah pemerintahan Tumenggung Wiradireja, sedangkan “dalem”nya adalah Aria Wiratanudatar (Dalem Cikundul). Makam bangsawan ulama sufi ini terletak di Tanah Baru juga, bersama saudaranya Raden Iyi, dimakamkan berdampingan di Astana Gede, Tanah Baru, Bogor Utara.

6. KH Sholeh Iskandar (5 April 1922 – 22 Juni 1992)

KH Sholeh Iskandar merupakan tokoh ulama Jawa Barat, khususnya Bogor yang juga seorang pejuang gerilyawan, Komandan Batalyon 0 Hizbullah, meliputi Jasinga dan Leuwiliang. Pangkat terakhirnya Mayor dan merupakan salah seorang ahli strategi gerilya di Jawa Barat pada masa perebutan kemerdekaan.

Selepas kemerdekaan, beliau aktif di Partai Masyumi. Karena memiliki garis politik yang berbeda dengan Nasakom-nya, Soekarno, beliau dan beberapa tokoh lain seperti Natsir dan KH Noer Ali dari Bekasi dijebloskan penjara.

Keluar dari penjara, beliau memilih berkiprah di bidang sosial dan pendidikan. Tercatat, beliau mendirikan Pondok Pesantren Pertanian Darul Fallah di kawasan Cinangneng, Universitas Ibnu Khaldun tahun 1961, RS Islam Bogor tahun 1982, dan BPRS Amanah Umah tahun 1980-an.

7. Kapten Muslihat (26 Oktober 1926 – 25 Desember 1945)

http://blog.wowbogor.com
Jabar Media Online

Kapten Tubagus Muslihat adalah pahlawan yang gugur di medan perang dalam memimpin anak buahnya, rakyat Bogor melawan Inggris. Pertempuran terjadi karena Inggris tidak mau memberikan kekuasaan kepada rakyat Indonesia. Aksi heroik komandan Kompi IV Batalion II Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah Jend Urip Sumoharjo ini sungguh memang melambangkan pemimpin yang maju di depan bersama anak buahnya.

Patung beliau diabadikan di Plaza Kapten Muslihat (Taman Topi) yang menunjuk ke arah depan, sebagai bentuk representasi aksi heroik beliau dalam memimpin penyerbuan. Sebelum wafat, beliau berwasiat untuk memberikan tabungannya, 600 (uang jepang) untuk fakir miskin, hingga akhirnya beliau meninggal di hadapan dr. Marzuki Mahdi.

8. Mayor Oking (23 April 1903 – 7 Oktober 1963)

Mayor Oking Djaya Atmadja adalah tokoh sentral dalam penumpasan PKI Madiun, DI/TII juga ketika NICA Belanda agresi militer dan menghalau pasukan sekutu tersebut di Pelabuhan Ratu sehingga gagal masuk ke Sukabumi.

Karir cemerlang Mayor Oking sangat brilian, DI/TII yang menyerah di daerah pegunungan Jawa Barat berhasil dikawal masuk ke Bogor walaupun dengan kondisi tangan yang sudah diamputasi ketika tertembak dalam penumpasan PKI di Solo pada pemberontakan 1948.

Walau dengan kondisi sakit, beliau masih tetap berjuang bersama TNI memberantas banyak ancaman terhadap NKRI, hingga wafatnya pada usia 45 tahun.

9. Nyi Raja Permas

Nyi Raja Permas atau Raden Ayu Raja Permas adalah ibu dari Raden Dewi Sartika, pahlawan nasional yang diabadikan sebagai nama jalan di ruas Pasar Anyar, Taman Topi (Kapten Muslihat), hingga ke Jalan Sudirman A Yani. Jalan Nyi Raja Permas merupakan jalan yang kita kenal sebagai daerah “Pasar Anyar” Bogor dan jalan Dewi Sartika adalah ruas dari Pasar Anyar menuju Bogor Junction hingga lampu merah Jalan Sudirman.

10. Dewi Sartika (4 Desember 1884 – 11 September 1947)

http://blog.wowbogor.com
Hello Bogor

Dewi Sartika merupakan tokoh pendidikan yang memproleh anugerah Pahlawan Nasional ini adalah anak dari Raden Somanagara dan Raden Ayu Raja Permas yang kemudian dihormati masyarakat sebagai Nyi Raja Permas. Nyi Raja Permas sendiri tokoh pejuang yang menentang penjajahan hingga akhirnya dibuang Belanda ke Ternate. Ayahnya juga meninggal, sehingga Dewi Sartika pun harus dititipkan ke pamannya, Patih Arya Cicalengka.

Kembali ke ibunya setelah remaja, Nyi Raja Permas, Dewi Sartika makin suka mengajar. Nyi Raja Permas pun sangat mendukung. Saat di Cicalengka, Dewi Sartika termasuk anak sangat pintar. Umur sepuluh tahun bisa bahasa Belanda dan beliau juga mengajarkannya ke anak-anak pembantu.

Sakola Istri didirikan Dewi Sartika dengan dukungan pamannya Bupati Martanegara dengan tabungan pribadi. Beruntung, dukungan suaminya Raden Kanduruan Agah Suriawinata juga diperoleh untuk mengembangkan sekolah ini. Sakola Istri ini merupakan Sekolah Perempuan pertama di Hindia Belanda. Dibantu Nyi Oewid dan Ny Poerwa, sepupunya, mereka mengajar 20 orang murid perempuan pertama di Pendopo Kabupaten Bandung.